Saya merinding melihat korban-korban bom berjatuhan, terutama bom Bali tahun 2000. Mereka tidak bersalah, tapi menjadi korban orang-orang biadab. keluarga yang ditinggalkan menderita, keadaan ekonomi berpengaruh secara signifikan.
Bom terjadi lagi, lagi, dan lagi. Pelaku sudah banyak yang ditangkap, dieksekusi mati. Tapi mengapa? apa karena big boss Noordin M. Top belum juga berhasil ditangkap?
Stasiun televisi, terutama televisi berita ramai-ramai menyiarkan tayangan-tanyang ekslusifnya.
Bom dikupas habis. Mengenai bagaimana jihad dikembangkan. Melalui jamaah islamiyah, pondok pesantren, pengajian anak-anak muda, motif pelaku yang berpura-pura menjual obat-obatan herbal dan terapi bekam untuk menjaring anak-anak muda.
pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah sebenarnya ada atau tidak teroris itu ya?
dari mana mereka membuat bahan-bahan untuk membuat bom? mengapa demikian mudahnya untuk memperoleh itu?
ataukah teroris itu hanya buatan saja?
sekarang bayangkan, penyergapan rumah di Temanggung yang katanya ada Noordin M.Topnya seperti bukan sedang menangkap seorang teroris, tapi penggerebekan tempat pelacuran atau pembuatan narkoba tau bahkan pembuatan bakso daging tikus. Penyergapan yang ditayangkan di stasiun televisi, seperti pembuatan film saja. Ketika mau menembak, kamera dinyalakan. Sutradara bilang Cut, Action. Dan masyarakat banyak bisa menonton penyergapan ini tanpa penjagaan yang super ketat. Cara menembaknya pun aneh, tidak ada tembakan balasan. padahal di rumah itu katanya ada gembong teroris.
Semakin aneh lagi, ketika konferensi pers dari kepolisian tentang siapa sebenarnya mayat Temanggung, Noordin atau bukan? tepat dengan keputusan MK tentang gugatan pilpres.
Ternyata bukan Noordin, masyarakat dibuat menebak-nebak, ternyata Ibrahim, perencana bom J.W Marriot dan Ritz-Carlton. Noordin berhasil meloloskan diri. Hebat banget ya Noordin, bisa mengelabui polisi yang jumlahnya banyak.
Terorisme menjadi sebuah drama, teka-teki, sekaligus hiburan bagi masyarakat yang bisa menggantikan posisi sinetron, infotainment, dan acara musik yang bejibun jumlahnya di stasiun televisi.
Saya semakin bertanya-tanya, kenapa harus pas dengan keputusan MK yang menolak gugatan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto?
Kalau misalnya saja konferensi pers ini dilakukan satu minggu setelah keputusan MK, pasti ceritanya jadi lain. Televisi lebih menyorot keputusan MK, terjadi demonstrasi terhadap MK, dll, dsb, dst. Dibanding melihat keputusan MK yang bikin masyarakat pusing, yah lebih baik melihat berita tentang terorisme yang menarik perhatian.
Melihat kasus ini, saya teringat pada bom kuningan pada 2005, setelah kenaikan BBM, kerusuhan Monas setelah kenaikan BBM 2008, sepertinya semakin menjadi teka-teki saja. Ada atau tidaknya teroris itu, kalaupun memang ada siapa ya otak di balik semua itu?
Wallahualam Bishawwab...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kejadian2 di atas kelak bakal jadi sejarah Rul...
BalasHapusHahahaha makanya hati2 dengan sejarah...
Biasanya, dan hampir seluruhnya, sejarah itu dibuat penguasa (kalo ga, pasti dibredel)... kalo ga pinter2 untuk kritis, makanlah itu sejarah hehe...
Begitupun kejadian di atas, ada yg mengaturnya.
Inget ga kalimat ini, Jas Merah (Jangan Lupakan Sejarah).. ini dibuat Soekarno eheheh sang penguasa di zamannya.. dan hasilnya ampuh.. kita selalu inget Soekarno...
So, hati2 dengan sejarah..