Eep Saefullah Fatah sebagai seorang warga negara menulis tentang Sembilan Potensi Kekeliruan Yudhoyono pada Kompas, 18 Agustus 2009, yaitu :
- mengakomodasi semua (23) partai peserta resmi koalisi penyokongnya ke dalam kabinet dan/atau pos-pos pemerintahan lainnya. Akomodasi semacam ini ditandai oleh berlebihannya jumlah dan proporsi wakil partai sambil terabaikannya kompetensi mereka.
- mengakomodasi berlebihan wakil lima partai utama peserta koalisi ke dalam kabinet dan pos-pos kantor eksekutif Presiden. Hal ini berpotensi membatasi kemungkinan terbentuknya kabinet yang kompeten, profesional, dan punya integritas.
- tergoda memperluas dukungan dalam legislatif dengan menarik masuk Partai Golkar ke barisan pendukung pemerintahan melalui Munas Partai Golkar dan/atau PDI-P melalui pertukaran kepentingan jangka pendek. Alhasil, SBY-Boediono akan tersokong oleh koalisi tambun berkekuatan di atas 70 persen kursi legislatif.
- menjalankan politik balas budi secara berlebihan sebagaimana terlihat sejak 2004. politik balas budi berlebihan telah terbukti meningkatkan kerepotan selama lima tahun terakhir
- tak bersikap tegas terhadap kasus-kasus konflik kepentingan sehingga membatasi efektivitas manajemen pemerintahan dan kebijakan. Contoh terbaik soal ini adalah berlarut-larutnya penyelesaian lumpur di Sidoarjo.
- mengelola pemerintahan yang terlampau hati-hati, lamban, konservatif. SBY-Boediono cenderung satu karakter, tidak saling komplementer sebagaimana SBY- Kalla. Keduanya berpotensi menjadi rem (bukan rem dan gas) dan memfasilitasi terbentuknya pemerintahan yang kurang sigap.
- terjerat oleh target pemeliharaan dan pembesaran postur politik Partai Demokrat dalam Pemilu 2014.
- memelihara sensitivitas dan percaya diri berlebihan. salah satu bukti yaitu pidato SBY yang kurang patut segera setelah meledaknya bom di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton tengah Juli lalu. Lantaran kelebihan percaya diri tersebut, alih-alih memberi empati yang layak bagi korban dan mengakui kelemahan intelijen dalam mengantisipasi dan mencegah teroris, SBY banyak menghabiskan isi pidatonya untuk meminta simpati dan empati publik bagi dirinya serta (secara implisit) memberikan apresiasi kepada aparat intelejinnya.
- lalai mengantisipasi ancaman politik serius di pengujung pemerintahannya kelak.
Komentar :
- saya sebagai warga negara yang sangat mencintai Indonesia, mengamati proses politik dan demokrasi negara ini, hanya dapat prihatin dan mengelus dada melihat proses pemilu 2004 yang mengantarkan Partai Demokrat dan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu. Pelanggaran pemilu oleh yang menyelenggarakan hajat pemilu yaitu KPU seperti DPT yang demikian kisruhnya, Bawaslu yang tak dapat berbuat apa-apa, partai politik yang ternyata lebih senang berkuasa dibanding melaksanakan fungsinya sebagai partai politik, kisruh keputusan KPU, MA, MK. Wah, rasanya kita akan kembali lagi ke jaman Orde Baru dulu. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, kecurangan pemilu yang masif, pemilih bisa memilih lebih dari satu kali, kartu suara yang sudah dicontreng, sisa suara yang dicontreng sendiri oleh KPPS, lantas bagaiamana nasib bangsa ini jika pemilunya berjalan demikian buruknya. Saya teringat waktu jaman saya masih duduk di bangku SD dulu, ketika pemilu berlangsung, saya melihat panitia pemilu mencoblos sendiri sebanyak-banyaknya kartu suara pada pilihan nomor 2. Kalau sekarang tidak ada bedanya, apa gunanya reformasi?
- Ditambah pula, seperti diungkapakan Eep, pada tulisan di atas, bahwa SBY sepertinya ingin merangkul semua partai politik ke dalam pemerintahannya termasuk partai oposan. Saya pikir tadinya, partai yang kalah mengusung capres-cawapresnya akan menjadi oposisi. PDI-P, Golkar, Hanura, Gerindra, tapi ternyata...?? Golkar sudah terbiasa menjadi partai berkuasa bukan oposisi. Pergantian ketua umum nanti pun pasti yang menang yang punya banyak uang dan disokong pemerintahan, jadi sudah pasti Golkar akan masuk pada jajaran kabinet. Lalu PDI-P??? kemesraan yang ditunjukkan Taufik Kiemas dan SBY bahkan Kiemas sendiri memuji pidato kenegaraan SBY yang katanya optimis. Padahal, masyarakat masih ingat betul, pernyataan Kiemas tentang SBY yang "Jendral kok kayak anak kecil", dalam wawancara Andy Noya dengan Megawati dalam Kick Andy, Taufik Kiemas sendiri menyatakan tidak pernah menyesal mengatakan itu. Tapi, sekarang, pledoi tentang politik semakin benar adanya, bahwa tidak ada kawan dan musuh yang abadi. yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Demokrasi tanpa oposisi, ibarata udara tanpa air. Jadi, apa jadinya demokrasi kita, tidak ada check and balance.
- Presiden yang paling banyak melakukan curhat kepada rakyat sudah pasti SBY. mulai dari perseteruan dengan Amien Rais, curhat tentang lawan-lawan politiknya yang katanya galak, sampai yang terakhir curhat tentang terorisme yang katanya mengancam Presiden sehingga perlu diberikan pengaman berlapis. Bukankan sebagai presiden, seharusnya lebih banyak mendengarkan curhat rakyat, bukan sebaliknya?
- Terakhir, sama halnya dengan Eep, bahwa saya hanyalah warga negara biasa yang ingin negara ini maju. tidak lagi mundur ke belakang. Jadi, selamat bekerja SBY - Boediono. Buatlah negara ini seprti yang bapak-bapak janjikan seperti waktu kampanye.
Duhh mo komen ntuk yg ini, tapi ga nyambung hehe..
BalasHapusYang jelas... tanggung jawab tuh yang milih SBY hahahah..
Untung ga milih SBY..apalagi milih kedua saingannya hahaha..
berarti gak ikut tanggung jawab dong guh....hehehhe
BalasHapus