Dalam lembar sejarah kehidupan manusia, banyak cintoh manusia yang karena tidak bisa memengang teguh amanah dan menjaga lisannya, harus berakhir dengan kenistaan bahkan kematian yang mengenaskan. Firaun yang sombong dan selalu serapah ucapannya, harus berakhir dengan terkubur di dasra lautan. Dia mengaku dirinya sebagai Tuhanm, "Ana rabbukumal a'la", Aku adalah Tuhan kalian yang Agung!". Begitu juga dengan Qarun, meras dirinya paling kaya, berakhir pula dengan tragis, dibenamkan di dasar bumi.
Karena itu benarlah pernyataan Nabi SAW, Salamatul insan fi hifzhil lisan, selamatnya manusia terletak pada penjagaan lisannya. Sejauh itulah manusia merasakan keselamatan dan ketenangannya. "Dan janganlah mengikuti apa yang kamu tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati (pikiran) itu semua akan dituntut." (QS. al-Isra, 17:32). Tiada melepaskan suatu kata, melainkan ada dua malaikat Raqib dan Atid yang selalu mengawasi dan mencatat." (QS.Qaaf, 50:18). Kedua malaikat ini tidak pernah mengantuk dan juga tidak pernah tidur. Dua puluh empat jam mengawasi kita dan mencatat setiap kata-kata yang keluar dari lisan kita.
Sutau waktu Abu Musa r.a., bertanya kepada Rasulullah, "Orang Muslim yang bagaimanakah yang paling mulia? Rasulullah menjawab, "Yaitu seorang yang (dimanapun kaum muslimin) selamat dari gangguan lidah (ucapan) dan tangannya (perbuatannya). Wallahu a'alam.
Ust.Muhammad Arifin Ilham
Dikutip dari Kontan, 02 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar